Menyentuh Hati Guru, Mengubah “Wajah” Sekolah

Oleh Ester Lince Napitupulu / Koran Kompas

Tawaran Pelatihan Kepemimpinan transformasional guru yang diperkenalkan ke Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2012 awalnya sempat direspons dengan setengah hati oleh para guru. Bayangan guru-guru dikumpulkan dalam suatu kelompok besar, diceramahi, setelah itu lupa, menyeruak di benak para guru.

Tak banyak pelatihan yang dirasakan berpengaruh untuk membuat para guru di Sumba Timur mau mengubah diri yang berdampak pada perubahan di sekolah. Selama ini pelatihan usai, pekerjaan mengajar berlangsung lagi apa adanya seperti seebelum pelatihan.

Namun pelatihan untuk guru SD/MI yang ditawarkan International Overseas Alumni (IOA) dengan dukungan Masyarakat Pendidikan Sejati (MPS) menawarkan oase di tengah kejenuhan mengikuti pelatihan yang tidak sistematis dan bermakna. Bisik-bisik dikalangan gurupun menyebar betapa berbedanya pelatihan ini. Hati guru tersentuh karena disadarkan bahwamerekalah sesungguhnya yang harus berubah, sekecil apapun bentuknya agar terjadi perubahan di ruangan kelas dan sekolah. “Kami minta terima kasih untuk pelatihan yang diberikan oleh IOA dan MPS. Kami jadi sadar, tidak bilang lagi anak bodoh kalau sulit belajar,” ujar Apriyanti guru SDN Rapamanu, Kecamatan Kota Waingapu beberapa waktu lalu.

Meskipun masih di kota, menuju lokasi sekolah ini yang ada di gunung tidaklah mudah. Siswa harus mendaki sekitar 30 menit untuk menuju ke sekolah. Keriangan siswa menuju sekolah sering terusik dengan guru yang terlambat, mengajar satu arah, marah-marah sambil menyebut siswa bodoh, dan menghukum siswa secara fisik.

Pertemuan para guru SD/MI Kecamatan Kota Waingapu dan Kambera yang sudah dan baru mengikuti pelatihan kepemimpinan transformasional dan disegarkan dengan pelatihan kreativitas sepekan ini di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kristen Wira Wacana Sumba di Kota Waingap, mengungkap perubahan –perubahan yang mulai dilakukan kepala sekolah dan guru. Mungkin perubahan yang terjadi terbilang sederhana jika dibandingkan dengan pendidikan di Pulau Jawa.

Namun, nyatanya perubahan ini mulai membawa suasana yang menyenangkan bagi guru, siswa, dan orang tua. Guru mamu memberi usaha ekstra untuk membantu siswa kelas rendah yang masih belum bisa membaca, menulis, dan menghitung atau yang belum lancar berbahasa Indonesia. Seusai sekolah guru tak bergegas pulang, tetapi memberi bimbingan bagi siswa yang butuh bantuan belajar. Ada juga yang menyiapkan rancangan pembelajaran untuk esok harinya.

Suharni, guru kelas I SD masehi Waingapu mengatakan guru mulai sadar dengan memberi contoh tidak datang terlambat. Bahkan guru berbaris menyambut siswa yang datang di halaman depan sekolah. “Rasa tanggung jawab pun muncul untuk peduli dengan siswa. Ada seorang anak yang pakaiannya dan bajunya kotor, guru mulai memberi perhatian, bahkan memandikan siswa tersebut. Kini anak tersebut mulai bersih ketika ke sekolah” kata Suharni.

Martina Azi kepala SD Kahaungu Eti, Kecamatan Kambera, mengatakan para guru yang sudah mendapat pelatihan merasakan semangat baru untuk mulai memperbaiki diri dan menjalin hubungan baik dengan sesama guru ataupun siswa.

Kondisi sekolah yang terkendala hewan ternak milik warga ke lingkungan sekolah mulai diatasi dengan membangun pagar sederhana di lingkungan sekolah dari kayu dan bambu.

Para guru mulai mendekati warga dan orang tua agar bisa memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan agar hijau agar siswa merasa nyaman belajar. Secara perlahan penghijauan pun dilaksanakan.

Kreativitas pun muncul untuk memanfaatkan lahan sekolah yang gersang menjadi hijau. Para guru mengajak siswa bekerja sama menanami tanah yang berbatu karang dengan beragam sayuran seperti kangkung, daun bawang dan terung. Hasil panen yang melimpah dijual kepada para guru dan warga sekitar sekolah.

“Dananya dibagi-bagi untuk kas sekolah agar agar ada tambahan untuk membuat suasana kelas menjadi nyaman,” kata Martina.

Para guru dari berbagai gugus juga mulai diperkenalkan untuk bisa berbagi. Seminar soal meningkatkan minat baca tidak diisi dengan ceramah dari para ahli. Namun ajang ini menjadi kesempatan bagi kepala sekolah atau guru membagi strategi yang sudah diterapkan atau kendala yang dihadapi ketika mendorong siswa mencintai buku bacaan. Sesi berbagi dan belajar ini pun memberi rasa percaya diri kepala sekolah dan guru karena punya kesempatan untuk menyampaikan perubahan di sekolah mereka.

Mendorong Kebajikan

Ketua dan pendiri Masyarakat Pendidikan Sejati (MPS) Gede Raka mengatakan, pelatihan kepemimpinan transformasional dilakukan untuk mendorong guru mau mengeluarkan kebajikan dan potensi dalam dirinya untuk berubah. Karena itu pelatiham imi dilakukan dengan membantu guru mau berubah terlebih dahulu dari hal sederhana, lalu ditingkatkan dengan pelatihan kreativitas dan praktik metode mengajar yang menyenangkan.

Dalam menerapkan pelatihan kepemimpinan transformasional di Sumba Timur, fokus awal menyiapkan kepala sekolah, pengawas, guru, dan dosen untuk menjadi fasilitator lewat pelatihan untuk menjadi pelatih (training of trainer/TOT). selain itu kemitraan juga dijalin dengan perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Tujuannya supaya program ini berkelanjutan sehingga dinas pendidikan setempat dapat melanjutkan pelatihan guru yang lebih terstruktur disemua jenjang sekolah.

Pelatihan dilakukan dalam kelompok-kelompok dengan jumlah sekitar 30 guru. Pelatihan selama 3 hari dengan kegiatan permainan, diskusi mengenai tokoh kepemimpinan dan analisis kasus kepemimpinan dilakukan secara reflektif. Para guru pada akhirnya diminta berkomitmen untuk membuat perubahan di dalam dirinya.

Dalam kurun 6 bulan atau satu tahun, guru kembali diberi pelatihan kreativitas. Pelatihan ini diciptakan dengan suasana aktif dan menyenangkan yang bisa menginspirasi guru menciptakan suasana serupa di ruang kelas.

Dengan permainan topi berwarna-warni, guru belajar mengungkapkan pendapat secara berbeda. Pembelajaran bisa didesain dengan memanfaatkan gambar-gambar dan dan memberi kebebasan siswa untuk curah pikir, lalu membuat kesimpulan. Pembelajaran pun menjadi penuh warna karena kaya ide yang dilontarkan peserta. Ide yang ucu dan tak masuk akal pun tetap dihargai.

“Jangan biarkan kebajikan guru tidak terbagikan meskipun dimulai dari yang sederhana,” demikian mantra Raka menyemangati guru untuk terus berubah dan berbuat.

Zaina Susiardjo, Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan IOA, mengatakan dukungan pada peningkatan guru SD dirasakan penting dan dibutuhkan. Karena itu IOA yang merupakan perkumpulan dari alumni pelajar Indonesia yang sekolah di luar negeri berkomitmen bisa membantu kemajuan pendidikan di Indonesia, terutama meningkatkan kualitas guru dan siswa.