Transformasi Pendidikan di Era “New Normal”

Oleh Gede Raka

Kata Pengantar Talk Show

Sejak awal tahun 2020 ini kita mengalami disrupsi di semua bidang kehidupan. Kita belum tahu kapan pandemi covid 19 ini berakhir dan bagaimana bentuk akhirnya. Terlepas dari waktu dan bentuk akhirnya, yang pasti negara kita, selama dan pasca pamdemi, sedang dan akan mengahadapi berbagai tantangan. Pembahasan “Transformasi Pedidikan di Era New Normal” akan kita kaitkan dengan tiga tantangan baru.

Tantangan pertama: Membangun kebiasaan atau pola perilaku baru dalam menjalankan kegiatan di semua bidang — bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan, ritual keagamaan, pelayanan publik, yang aman dari segi kesehatan, tanpa menghambat tercapainya tujuan-tujuan yang diharapkan di sektor atau biadang bersangkutan.

Tantangan kedua: Memacu pembangunan ekonomi untuk mengkompensasi kerusakan dan kemandegan ekonomi yang telah terjadi karena pandemik.

Tantangan ketiga: Membangun kekuatan untuk menjadi bangsa yang tangguh di era yang sama sekali baru yaitu era terpisahnya kesadaran (consciousness) dari kecerdasan (intelligence).

Di masa lalu, kecerdasan dan kesadaran berkumpul dan tersambung pada satu entitas, yaitu manusia. Manusia adalah entitas yang paling cerdas dan juga memiliki kesadaran. Namun, dengan berkembangnya Artifical Intelligence dan Big Data, sekarang manusia mampu menciptakan mesin, applikasi, dan algoritma yang lebih cerdas dari manusia sendiri. Mesin-mesin yang lebih cerdas dari manusia ini tidak memiliki kesadaran (tanpa kesadaran moral, etik, tanggung jawab sosial). Keterpisahan antara kesadaran dan kecerdasan ini akan membawa perubahan besar dan disrupsi pada bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, budaya dan pertahanan.

Sekarang, pertanyaannya: perubahan-perubahan apa yang mendesak dan yang penting untuk dilakukan pada dunia pendidikan Indonesia dalam mengatasi tantangan baru tersebut di atas?

Kata Penutup Talk Show

Sesudah mendengarkan para narasumber (Bapak Nadiem Makarim, Ibu Nyoman Andjani, Ibu Radinka Qiera, dan Prof. Dr. Reni Wirahadikusumah), sekarang izinkan saya menggaris bawahi beberapa pandangan penting yang telah disampaikan.

1. Proses pendidikan perlu diselenggarakan secara sangat sangat kreatif, dengan memanfaatkan secara optimal kemajuan teknologi. Kreatifitas ini diperlukan untuk:
a. Percepatan pemerataan pendidiktan yang bermutu ke seluruh penjuru tanah air.
b. Memunculkan potensi terbaik bangsa, khususnya potensi untuk berinovasi.

2. Budaya, proses dan substansi pembelajaran yang memperkuat persatuan bangsa ditengah-tengah kebhinekaan dan mampu memanfaatkan unsur budaya Nusantara sebagai kekuatan untuk kemajuan bangsa.

3. Lulusan punya kemampuan dan semangat untuk belajar sepanjang hayat, agar kapabilitas yang mereka miliki tetap relevan dengan tuntutan perubahan.

4. Pendidikan yang menghasilkan lulusan yang berbudi (berkarakter) baik dan kuat — yakni mempunyai rasa tanggung jawab sosial dan kemanusiaan tinggi — untuk menjamin agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dipergunakan untuk kemaslahatan kemanusiaan, bukan menjadi bencana bagi kemanusiaan.

Dengan penekanan pada karakteristik pendidikan seperti itu mudahan-mudahan pendidikan di Indonesia dapat menjadi wahana utama untuk mewujudkan Republik Indonesia yang maju, damai, sejahtera, berkeadilan dan bermartabat. Semoga dengan demikian bangsa Indonesia dapat menjadi berkah bagi kemajuan kemanusiaan.

Tautan

Rekaman talk show selengkapnya dapat dilihat di Program Indonesia Bicara.